Setelah beberapa waktu lalu kita telah membahas tentang sejarah kota Kyoto, kini kita akan membahas lebih dalam lagi tentang kota bersejarah yang satu ini. Yap, seperti judul diatas, kita akan membahas tentang festival atau yang dalam bahasa Jepang disebut “matsuri” yang diadakan setiap setahun sekali khususnya di kota Kyoto. Bagi kalian yang ingin traveling ke Jepang, ada baiknya kalian mengetahui berbagai macam perayaan di bawah ini untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan kalian :).
Daripada menunggu lama, langsung saja kita simak bahasan berikut ini. Inilah empat festival tahunan terbesar di kota Kyoto, yang wajib kalian ketahui!
①
AOI MATSURI
Aoi Matsuri (葵祭) adalah matsuri yang dilangsungkan setahun sekali pada bulan Mei di Kyoto, Jepang. Puncak perayaan adalah prosesi Rotō no Gi (upacara di jalanan) yang berlangsung 15 Mei di dalam kota Kyoto. Prosesi Rotō no Gi merupakan rekonstruksi dari iring-iringan pejabat istana yang menuju Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamo untuk membawa pesan dan persembahan dari kaisar. Pria dan wanita peserta prosesi mengenakan pakaian berwarna-warni seperti dikenakan kalangan bangsawan Jepang di zaman Heian. Wanita dan anak-anak peserta iring-iringan memakai rias wajah yang tebal seperti tata rias panggung.
Perayaan ini disebut Aoi Matsuri karena daun tanaman Asarum Caulescens (Jepang: Futaba Aoi) dijadikan hiasan selama perayaan, termasuk hiasan pada tutup kepala dan atap tandu. Aoi Matsuri sudah dicatat dalam literatur Jepang sebelum abad pertengahan. Dalam cerita Hikayat Genji dikisahkan tentang istri Hikaru Genji, Aoi no Ue yang datang terlambat lalu berebut tempat dengan Rokujō no Miyasundokoro (kekasih suaminya) untuk dapat melihat prosesi.
Pada masa pemerintahan Kaisar Kimmei (540-571) terjadi kegagalan panen akibat cuaca buruk berkepanjangan. Rakyat dilanda wabah penyakit dan kelaparan, sehingga kaisar mengirim utusan ke Kuil Kamo untuk menyampaikan pesan dan persembahan. Musibah berakhir dan pejabat istana secara tetap mengunjungi Kuil Kamo. Upacara diadakan di dua kuil Kamo sehingga disebut Kamo Matsuri.
Di pertengahan zaman Heian, bila hanya disebut “matsuri” maka yang dimaksudkan adalah Kamo Matsuri. Di zaman Kamakura dan Muromachi, prosesi tidak dilangsungkan akibat perang berkepanjangan. Perayaan dihidupkan kembali di Edo sekitar zaman Genroku. Ketika ibu kota dipindahkan ke Tokyo pada tahun 1869, prosesi Aoi Matsuri juga tidak dilangsungkan.
Aoi Matsuri kembali dilangsungkan di Kyoto pada tahun 1884 dengan maksud untuk menghidupkan kembali kota Kyoto. Selama Perang Dunia II, upacara Shatō no Gi tetap dilangsungkan, tapi tidak diadakan prosesi. Prosesi Aoi Matsuri kembali diadakan tahun 1953, dan diselenggarakan setiap tahun hingga sekarang.
Aoi Matsuri dilangsungkan dari awal Mei hingga puncak upacara berupa prosesi 15 Mei. Berikut adalah urutan prosesinya:
YABUSAME SHINJI
Upacara di Kuil Shimogamo untuk mendoakan keselamatan selama perayaan berlangsung. Penunggang kuda dengan kostum prajurit zaman Heian mempertontonkan keterampilan memanah dari atas punggung kuda yang sedang berlari.
SAIO-DAI MISOGI SHINJI
Wanita yang berperan sebagai Saiō-dai (bintang utama dalam prosesi) dan pengikutnya disucikan dalam upacara yang dilakukan secara bergantian setiap tahunnya di Kuil Kamigamo dan Kuil Shimogamo.
BUSHA SHINJI
Upacara melepaskan anak panah untuk menghalau arwah jahat yang dilangsungkan di Kuil Shimogamo.
KAMO KURABE UMA
Upacara memacu kuda sekencang-kencangnya di dalam lingkungan Kuil Kamigamo untuk memeriksa kondisi dan kesehatan kuda.
MIKAGE MATSURI
Upacara penyambutan kedatangan arwah suci di Kuil Shimogamo dari Kuil Mikage di Gunung Hiei. Tari dan musik tradisional dipersembahkan di hutan bernama Tadasu no Mori, Kuil Shimogamo.
MIARE SHINJI
Upacara tertutup yang dilangsungkan malam hari di Kuil Kamigamo. Tidak terbuka untuk umum.
ROTO NO GI
Prosesi puncak pada 15 Mei, dimulai dari Istana Kyoto (Kyoto Gosho) menuju Kuil Kamigamo dengan melewati Kuil Shimogamo. Puncak prosesi adalah barisan wanita pengiring bintang prosesi yang disebut Saiō-dai.
SHATO NO GI
Upacara pembacaan pesan dan penyerahan persembahan di Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamo.
Pada zaman Heian, bintang utama dalam prosesi adalah seorang wanita yang disebut Saiō (斎王). Peran Saiō dipercayakan kepada salah seorang putri Kaisar Saga yang diutus sebagai miko di Kuil Kamo. Di zaman sekarang, wanita yang memerankan Saiō disebut Saiō-dai (斎王代, wakil Saiō) karena dipilih dari rakyat biasa. Wanita yang dipilih sebagai Saiō-dai harus belum menikah dan berasal dari kota Kyoto.
Saiō-dai memakai rias wajah tebal dan gigi yang dihitamkan (Ohaguro). Jenis kimono yang dikenakan Saiō disebut Jūnihitoe (Karaginu Moshōzoku). Barisan wanita yang mengelilingi Saiō-dai selama iring-iringan terdiri dari anak perempuan yang disebut Menowarawa, dan wanita yang berperan sebagai penunggang kuda, pelayan wanita (Uneme), dan pegawai istana.
②
GION MATSURI
Gion Matsuri (祇園祭) adalah festival tahunan yang diadakan di Kyoto selama satu bulan penuh di bulan Juli. Perayaan dimulai pada tanggal 1 Juli yang ditandai dengan ritual “Kippu Iri” dan diakhiri ritual “Nagoshinoharae” pada tanggal 30 Juli. Puncak perayaan Gion Matsuri berupa:
● Yoiyoiyama (malam sebelum Yoiyama, 15 Juli)
● Yoiyama (malam sebelum prosesi, 16 Juli)
● Yamaboko-junkō (prosesi Yamaboko, 17 Juli).
Yamaboko adalah istilah untuk “Yama” dan “Hoko”. Yama adalah kendaraan beroda besar dari kayu dengan hiasan megah dan ditarik oleh banyak orang. Hiasan kendaraan (kenshōhin) pada Yama berupa benda-benda keagamaan dan benda-benda seni seperti karpet yang didatangkan dari Eropa dan Tiongkok melalui Jalan Sutra. Perdagangan dengan Dinasti Ming mencapai puncaknya pada zaman Muromachi, sehingga motif dari luar negeri banyak dipamerkan dalam Gion Matsuri. Yama mempunyai tema yang biasanya merupakan cerita dongeng yang berasal dari Tiongkok.
Hoko adalah jenis Yama dengan menara menjulang tinggi yang di ujung paling atasnya terdapat hoko (katana dengan mata di kedua sisi) walaupun ada juga Hoko yang tidak bermenara. Hoko juga dijadikan panggung untuk kelompok orang berpakaian Yukata yang terdiri dari pemain musik Gionbayashi dan peserta yang berkesempatan naik karena memenangkan undian hasil membeli Chimaki atau Gofu (semacam jimat).
Klimaks Gion Matsuri berupa prosesi Yamaboko yang berlangsung tanggal 17 Juli pagi di jalan Karasuma-dōri, Shijō. Pada zaman sekarang, Yama dan Hoko yang ikut serta dalam prosesi berjumlah 32 buah. Prosesi Yama dan Hoko di jalan utama kota Kyoto dipercaya dapat mengumpulkan segala penyakit menular. Yama dan Hoko pulang ke lokasinya masing-masing setelah puncak perayaan selesai untuk segera dibongkar dan disimpan di gudang. Yama dan Hoko konon harus segera dibongkar sebelum penyakit menular kembali berjangkit di permukiman penduduk.
Gion Matsuri yang diselenggarakan secara bersama oleh kuil Ayatokunaka dan kuil Yasaka merupakan salah satu dari tiga festival terbesar di Jepang, selain Kanda Matsuri di Tokyo dan Tenjinmatsuri di Osaka. Gion Matsuri juga diselenggarakan di beberapa tempat di Jepang oleh berbagai jinja yang menyandang sebutan kuil Gion (gion-sha). Di kota Fukuoka setiap tahunnya di bulan Juli juga diselenggarakan Hakata Gion Yamakasa.
Gion Matsuri adalah tradisi yang berasal dari sekitar 1.100 tahun yang lalu. Pada tahun 869, konon terjadi wabah penyakit menular yang mengganas di seluruh Jepang, sehingga perlu diadakan upacara yang disebut Goryō-e untuk menenangkan arwah orang yang meninggal karena wabah penyakit menular. Pendeta Shintō bernama Urabe Hiramaro membuat 66 pedang dengan mata di dua sisi (hoko) untuk persembahan kepada penjaga dari penyakit menular yang disebut dewa Gozutennō. Jumlah Hoko yang dibuat sesuai dengan jumlah negara-negara kecil yang terdapat di Jepang pada saat itu. Upacara ini kemudian dikenal sebagai Gion Goryō-e, yang kemudian penyebutannya disingkat menjadi Gion-e.
Sejak tahun 970 upacara terus diselenggarakan setiap tahun hingga menjadi Gion Matsuri seperti sekarang ini. Prosesi Yamaboko seperti yang dikenal sekarang ini konon berasal dari tahun-tahun akhir zaman Heian. Gion Matsuri sempat tidak diselenggarakan sewaktu Perang Onin, akibat kebakaran besar di era Hōei, era Temmei dan era Genji, serta serangan udara pada Perang Dunia II. Gion Matsuri kemudian dihidupkan kembali oleh warga kota yang merupakan pengusaha yang berpengaruh.
③
GOZAN NO OKURIBI
Gozan no Okuribi (五山送り火), adalah perayaan penyalaan api unggun yang disusun membentuk aksara kanji, serta bentuk perahu, dan torii di lima gunung sekeliling kota Kyoto, Jepang. Tradisi ini merupakan puncak perayaan Obon di Kyoto, dan dilangsungkan setiap tanggal 16 Agustus.
Tradisi menyalakan “Okuribi”, yang berarti api untuk mengantar kepulangan para arwah, dimaksudkan untuk mengantar kepulangan arwah yang dipercaya mendatangi rumah keluarga atau anak cucu selama perayaan Obon. Gozan no Okuribi juga dikenal sebagai Daimonji no Okuribi (大文字の送り火), karena api dinyalakan untuk membentuk aksara (moji atau monji) untuk “dai” (大, besar). Selain di Kyoto, Daimonji no Okuribi juga dilangsungkan di beberapa tempat lain di Jepang.
Di zaman Edo, Okuribi tidak hanya dinyalakan di lima lokasi. Pada waktu itu masih terdapat api unggun yang disusun membentuk aksara hiragana untuk “i”, dan aksara kanji untuk “ichi” (satu), “hebi” (ular), serta “naginata” (tombak bermata golok). Gozan no Okuribi merupakan salah satu dari empat perayaan besar di Kyoto.
Penyalaan api dimulai pukul delapan malam di Gunung Daimonji (Nyoigatake), dan dilanjutkan dengan api unggun di keempat gunung lainnya. Nama dan waktu penyalaan untuk masing-masing api unggun sebagai berikut:
DAIMONJI
Api unggun yang dinyalakan untuk mengawali Gozan no Okuribi. Api disusun membentuk aksara kanji 大 (dai) yang berarti besar atau hebat. Berlokasi di kuil Jōdo-ji, Gunung Daimonji (Nyoigatake), dinyalakan tepat pukul 20.00.
MYŌ HŌ
Api unggun yang disusun membentuk dua aksara kanji 妙・法 (“myō” dan “hō”) yang berarti “hukum yang mengagumkan”. Berlokasi di Gunung Nishi-Yama dan Higashi-Yama, Matsugasaki, dinyalakan pukul 20.10.
FUNAGATA
Api unggun yang disusun seperti gambar perahu. Berlokasi di Gunung Funa, Nishigamo, dinyalakan pukul 20.15.
HIDARI DAIMONJI
Api unggun yang disusun membentuk aksara kanji 大 (dai), namun bentuknya merupakan cermin dari bentuk aksara “dai” pada Daimonji. Berlokasi di Gunung Hidaridaimonji, Ōkitayama, dinyalakan pukul 20.15.
TORIIGATA
Api unggun yang disusun seperti gambar torii atau burung. Berlokasi di Gunung Mandara, Saga Toriimoto, dinyalakan tepat pukul 20.20.
Api di masing-masing lokasi menyala selama 30 menit. Api Daimonji padam pada pukul 20.30, diikuti api di keempat gunung lainnya secara berurutan.
④
JIDAI MATSURI
Jidai Matsuri (時代祭, Festival Zaman) adalah perayaan yang diselenggarakan setahun sekali setiap tanggal 22 Oktober di kota Kyoto, Jepang. Festival ini pertama kali diselenggarakan tahun 1895 untuk memperingati berdirinya kuil Heian Jingū, sekaligus memperingati 1.100 tahun berdirinya ibu kota Heian-kyō (Kyoto). Jidai Matsuri diselenggarakan kuil Heian Jingū, dan merupakan salah satu festival terbesar di Kyoto.
Prosesi dimulai dari Istana Kekaisaran Kyoto (Kyōto Gosho) menuju kuil Heian Jingū melalui jalan-jalan utama di kota Kyoto. Prosesi diikuti kelompok peserta yang mengenakan pakaian seperti yang dikenakan orang zaman dulu di Jepang. Busana yang diperagakan adalah gaya busana orang Jepang pada zaman Restorasi Meiji hingga zaman Heian. Sejak tahun 2007, prosesi juga menampilkan kelompok peserta yang mengenakan busana orang Jepang pada zaman Muromachi.
Jidai Matsuri dimulai sebagai pesta peringatan berdirinya organisasi pelestarian kuil Heian Jingū. Panitia menginginkan festival menjadi lebih meriah, dan melangsungkan iring-iringan orang yang mengenakan kostum dari zaman sewaktu Kyoto berjaya sebagai ibu kota Jepang. Pada akhirnya, festival ini dinamakan “Jidai Matsuri”.
Ketika pertama kali diselenggarakan pada 25 Oktober 1895, peserta melakukan prosesi untuk mengunjungi kuil Heian Jingū yang baru saja didirikan. Sejak penyelenggaraan yang kedua, festival berubah artinya menjadi acara mempertontonkan kemajuan kota Kyoto kepada Kaisar Kammu dan Kaisar Kōmei yang didewakan di kuil Heian Jingū. Hari penyelenggaraan festival juga diubah menjadi tanggal 22 Oktober, bertepatan dengan peristiwa Kaisar Kammu memindahkan ibu kota Jepang dari Nagaoka-kyō ke Kyoto.
Persiapan festival dimulai sejak tanggal 15 Oktober dengan pembagian peran tokoh-tokoh sejarah yang harus dibawakan masing-masing peserta dalam perayaan. Puncak festival berupa prosesi pada tanggal 22 Oktober, dan festival dinyatakan berakhir pada tanggal 23 Oktober.
Jidai Matsuri diselenggarakan oleh Heian Kōsha yang merupakan gabungan dari sepuluh organisasi yang bergerak dalam bidang pemeliharaan dan pelestarian kuil Heian Jingū. Ketika pertama kali diselenggarakan, festival hanya terdiri dari enam kelompok iring-iringan dengan jumlah peserta sebanyak 500 orang.
Pada masa sekarang, prosesi terdiri dari 18 kelompok iring-iringan yang melambangkan tujuh periode historis sewaktu Kyoto menjadi ibu kota Jepang. Prosesi diawali kelompok peserta berkostum zaman Restorasi Meiji, diikuti kelompok peserta berkostum zaman Edo, dan terus surut ke belakang ke zaman Azuchi-Momoyama, “zaman Yoshino”, zaman Kamakura, dan diakhiri dengan kelompok zaman Enryaku. Prosesi juga diikuti iring-iringan peserta yang memerankan bangsawan klan Fujiwara.
Iring-iringan peserta kelompok Restorasi Meiji diawali peserta yang memerankan tentara kekaisaran Meiji dari Pasukan Yamaguni (Yamaguni-tai) yang merupakan korps penembak jitu. Sejak penyelenggaraan Jidai Matsuri yang pertama hingga zaman Taisho, anggota Pasukan Yamaguni yang asli ikut serta dalam parade.
Prosesi diikuti sekitar 2000 orang peserta yang membentuk iring-iringan sepanjang dua kilometer di jalan-jalan kota Kyoto. Perjalanan 4,5 km dari Istana Kekaisaran Kyoto (Kyōto Gosho) menuju kuil Heian Jingū memakan waktu sekitar tiga jam. Gubernur Prefektur Kyoto dan wali kota Kyoto menjadi kepala keamanan kehormatan yang membuka iring-iringan. Prosesi ditutup dengan iring-iringan mikoshi dan objek penyembahan di kuil Heian Jingū.
Nah, bagaimana? Apakah ulasan diatas cukup untuk kalian jadikan referensi ketika akan pergi traveling ke Kyoto? Silahkan sampaikan pendapat kalian lewat kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa juga untuk terus menantikan postingan kami selanjutnya yaaa!
Thanks: Wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar